Profesionalisme Guru: “Sikap terhadap Anak Didik”


Profesionalisme Guru: “Sikap terhadap Anak Didik”

Kode Etik Guru Indonesia dituliskan dengan jelas, bahwa : “Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Panacasila”. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni: tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia seutuhnya.
Tujuan pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Prinsip yang lain adalah membimbing peserta didik, bukan mengajar, atau mendidik saja. Pengertian membimbing ini telah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam system amongnya. Tiga kalimat pada yang terkenal dari system tersebut adalah ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani.
Ketiga kalimat itu mempunyai arti bahwa pendidikan harus memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Dalam tut wuri terkandung maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya sementara guru “memperhatikannya”. Dalam handayani, berarti guru mempengaruhi peserta didik dalam arti membimbing dan mengajarnya. Dengan demikian, membimbing mengandung arti bersikap menentukan kea rah pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila, dan bukanlah mendikte peserta didik, apalagi memaksakannya menurut kehendak sang pendidik.
Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik guru memandang manusia sebagai satu kesatuan yang bulat, utuh, baik jasmani mupun rohani, tidak hanya berilmu tinggi tetapi juga bermoral tinggi pula. Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya mengutamakan pengetahuan atau perkembangan intelektualnya saja, akan tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baik jasmani, rohani, social maupun yang lainya yang sesuai dengan hakikat pendidikan. Ini dimaksudkan agar peserta didik pada akhirnya akan dapat menjadi manusia yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupannya sebagai insan dewasa. Peserta didik tidak dapat dipandang sebagai objek semata yang harus patuh kepada kehendak dan kemauan guru.

Bagaimana Profesionalisme itu, diimplementasikan?

Jika kita menguraikan profesionalisme tugas seorang guru dalam tataran aplikasi, sejujurnya banyak “masalah” atau “kendala” yang muncul, mulai dari sikap mental (attitude) guru dalam mengajar, semangat dalam mengajar (motivasi), sarana dan prasarana yang tersedia, lingkungan kerja, kepemimpinan kepala sekolah, dan lain-lain. Sekalipun guru telah disertifikasi “dan memperoleh kompensasi” seringkali dan banyak dijumpai untuk menerapkan idealisme “guru yang profesional” dalam menjalankan tugas sesuai “idea” di atas, maka tuntutan itu “untuk menjadikan peserta didik sebagai insan yang seutuhnya” perlu kerja keras dan komitmen yang sungguh-sungguh.
Kita menyadari, bahwa untuk melaksanakan pembelajaran yang optimal sesuai dengan “idea” profesionalisme guru tersebut butuh perubahan mendasar terutama bagi setiap pendidik, mulai dari merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisis keberhasilan (secara kuantitatif dan kualitatif), melakukan pengayaan, sampai dengan menentukan metode yang paling baik untuk pencapaian tujuan pemebelajaran tersebut. Unit-unit pembelajaran tersebut perlu dikuasai oleh setiap guru sebagai pendidik, bahkan tuntutan itu lebih dari yang disebutkan. Guru dituntut untuk mengetahui, memahami dan memberikan solusi setiap diri masing-masing peserta didik. Dalam unit terkecil pembelajaran, jika seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran hanya 40-50% peserta didik yang berhasil tuntas (sama atau lebih besar dari KKM) maka itu artinya guru belum berhasil dalam transfer pengetahuannya kepada peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan pengulangan atau pengayaan, dan atau dilakukan remedial. Tuntutan idea profesionalisme tugas guru juga tidak sebatas itu, guru dituntut pula berlaku sebagai “konselor” bagi mata pelajaran yang diajarkannya. Tugas ini pun memerlukan tuntutan dan komitmen para guru dalam menjalankan tugasnya. Memang tugas guru terasa berat!!, inilah bagian dari profesionalisme guru.
Lalu, bagaimana pertanyaan: ”Bagaimana Profesionalisme itu, diimplementasikan?, yaitu dengan beberapa hal, antara lain:

a.Tetap semangat dalam menjalankan tugas
Foto023Semangat dalam melaksanakan tugas sangat dibutuhkan, sebagai sumber motivasi dalam menjalankan tugas. Kebiasan semangat dalam bekerja akan menjadikan kita dipandang oleh peserta didik sebagai guru yang bertanggungjawab terhadap pekerjaanya

b. Selalu melakukan perubahan dalam mengajar
Foto010Jadikan diri kita sebagai guru yang inspiratif, kreatif dan inovatif. Inspiratif merupakan daya untuk melaksanakan proses pembelajaran yang menghubungan berbagai konteks kekinian dengan materi/pokok bahasan yang sedang diajarkan, lakukan dengan bahasa yang sederhana, sebagai contoh jika kita sedang memberikan materi pembelajaran satuan dan pengukuran dalam IPA, cobalah lakukan untuk mengambil benang, kemudian peserta didik diminta mengukur panjang sebuah meja tempat siswa belajar, selanjutnya benang tadi diukur dengan mistar 30 cm. Konsep ini sekaligus melatih peserta didik melakukan penghitungan (operasi matematik: kali, bagi, tambah dan kurang). Kreatifitas dalam proses pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran, kreatifitas dibutuhkan untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berlangsung. Kreatifitas dalam proses pembelajaran ini dapat digunakan dalam menentukan alat peraga, media, lembar kerja siswa, pada waktu proses pembelajaran itu sendiri. Inovatif, dibutuhkan guna keberhasilan tujuan pendidikan, kemampuan ini menuntut agar pendidik tidak monoton dalam pelaksanaan pembelajaran. Singkatnya, inspiratif, kreatif dan inovatif dapat diramu oleh pendidik, sehingga pembelajaran dapat memberikan rasa nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

c. Ciptakan Kondisi Kondusif
Sebagai pendidik maka tugas dan fungsi sebagai guru tetap harus dijalankan, seperti tugas dan fungsi pokok mengajar/tatap muka, melaksanakan administrasi, dan supervisi (melakukan evaluasi internal) Foto025proses pembelajaran yang telah dilaksanakan untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran. Manajemen kelas pada saat pembelajaran perlu dikuasai, mulai dari masuk kelas, absensi siswa, mengawali proses pembelaajran sampai menutup proses pembelajaran. Action, di dalam kelas pada saat pembelajaran dilakukan penuh dengan situasi yang kondusif, perlu memahami kondisi psikologis peserta didik secara heterogen. Seringkali, guru tidak mampu untuk menguasai keadaan kelas hal ini akan memberikan dampak yang tidak baik, antara lain waktu terbuang, konsentrasi peserta didik tidak fokus karena suasana yang monoton. Oleh karena itu, action dalam proses pembelajaran menjadi salah satu bagian dari fokus guru dalam proses pembelajaran. Hidupkan suasana demokrasi, atau dalam bahasa pembelajaran ”ciptakan komunikasi dua arah” siswa dan guru.

d. Pelaksanaan Evaluasi
Selain itu, guru dituntut untuk mampu melaksanakan penilaian atau evaluasi secara baik, dimulai dari rancangan penilaian yang ”fair” (apa yang dievaluasi adalah materi atau apa-apa yang telah diberikan pada saat proses pembelajaran-bukan menyimpang, kecuali guru mampu telah melakukan pengembangan materi yang diajarkan), berikan data hasil evaluasi kepada peserta didik, dengan sesegera mungkin, jadi apabila guru sudah melaksanakan test maka hasilnya sesegera mungkin hasilnya diberikan kepada peserta didik-juga untuk komunikasi dengan orang tua). Tidak hanya sampai disini, guru masih harus melakukan analisis, setelah evaluasi diberikan maka analisis pun perlu segera dilakuakan, gunanya untuk mengukur keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

One thought on “Profesionalisme Guru: “Sikap terhadap Anak Didik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s