Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah


Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Diri Guru, Sebuah Ancangan Kinerja Tinggi dengan Personal Quality Management Membangun Motivasi dan Kepuasan Kerja

Setiap Kepala Sekolah menghendaki sekolah yang dipimpinnya dapat mencapai kinerja yang tinggi, namun harapan ini tidak sedikit yang tidak tercapai. Hal ini dapat terjadi oleh karena berbagai alasan yang mendasarinya. Tantangan dan hambatan, serta kondisi lingkungan sekolah (fisik dan manusia) yang dipimpinnya merupakan faktor-faktor yang dapat menghambat tercapainya harapan yang dimaksud, apabila tidak dikelola dengan baik.
Sumber daya manusia guru, merupakan faktor terpenting dalam keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan tersebut. Guru yang memiliki motivasi yang tinggi merupakan harapan setiap Kepala Sekolah sebagai pemimpinnya. Namun, demikian harapan tersebut sangat ditentukan oleh kepiawaian Kepala Sekolah dalam memenejemeni sekolahnya. Sebab, guru adalah manusia yang dinamis, yang memerlukan ”perlakuan” atau perlu pengetahuan yang mumpuni yang dituntut oleh Kepala Sekolah dalam merencanakan, mengorganisir, mengarahkan dan mengontrol aktivitas sekolah secara keselutuhan.
Motivasi dan Kepuasan dalam bekerja menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilan kinerja guru dan sekolah. Keberadaan motivasi dan kepuasan kerja dalam diri seorang guru penting diketahui dan dipahami, untuk kemudian dikembangkan guna tujuan-tujuan organisasi. Tentu saja, pemanfaatan motivasi dan kepuasan kerja tersebut didasari atau dilandasi serta ditunjang dengan faktor-faktor pendukung lainnya, misalnya kedisiplinan, kesejahteraan, pemberdayaan, dan lain-lain. Bagaimana, motivasi dan kepuasan kerja tersebut dapat dibangun, inilah peran dan tanggung jawab Kepala Sekolah sebagai pemimpin, pembina dan pengayom di lingkungan sekolah.

Seperti kita tahu, manusia hidup diberikan berbagai kecerdasan untuk melaksanakan kehidupannya, yaitu berupa kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan menghadapi tantangan, kecerdasan spiritual, dan lain-lain. Semua kecerdasan tersebut, diyakini dapat mempengaruhi pembentukan kualitas pribadi manusia.
Dalam kehidupan, ada sementara orang yang merasa mempunyai banyak kecerdasan dalam merealisasikannya dalam hidup, ia justru banyak bersinggungan dengan banyak orang di tempatnya bekerja, membuat kehidupan orang lain tidak nyaman, tidak aman. Keberadaannya di dalam lingkungan kerja tidak menjadikan orang lain berkembang, justru sebaliknya hanya menjadi batu sandungan.
Tidak jarang pula, kecerdasan intelektual yang tinggi menjadikan seseorang sebagai aktor-aktor intelektual yang memperalat orang lain untuk memperkeruh suasana demi keuntungan pribadinya sendiri. Kepiawaian dalam mengelola kecerdasan emosi juga sering sengaja digunakan sebagai ”topeng-topeng” untuk melakukan ”manipulasi” perilaku yang berpotensi menghancurkan orang lain, ”menipu” pimpinan: berpura-pura baik, dan lain-lain.
Uraian tersebut merupakan bagian dari ”fitrah” manusia yang telah diberikan oleh Allah SWT tentang berbagai kecerdasan untuk manusia. Dalam dunia pendidikan, keadaan tersebut, juga dimiliki oleh setiap guru sebagai pribadi manusia. Semua hal-hal negatif dan berpotensi menjadi penghambat dalam melaksanakan pekerjaan mengajar selayaknya dihilangkan atau diminimalisir dengan kondisi dan perlakuan kepemimpinan Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah sebagai pemimpin, memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk bagaimana mengelola dan membangun kecerdasan pribadi guru menjadi manusia yang ”piawai” mengelola dirinya untuk berkembang dan berkaryaguna bagi dirinya dan lingkungan organisasinya. Disinilah Kepala Sekolah, untuk berperan sebagai ”agent of change” dalam membentuk kepiawaian dalam meningkatkan ”Kualitas Pribadi” masing-masing guru, melalui Personal Quality Management to Development of Motivasi and Job Satisfaction” sehingga dapat mencapai High Performance.

Bagaimana Peran Kepala Sekolah?
Sebelum menjelaskan lebih jauh peran Kepala Sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pribadi setiap guru, sebagai titik awal perlu diketahuan dan dipahami tentang kualitas pribadi manusia, yaitu bahwa kita dapat mengembangakn kualitas pribadi manusia tidak hanya oleh peranan satu faktor saja. Ada banyak faktor yang dapat membuat kita dapat mengembangkan dan mengoptimalkan kualitas pribadi, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan kehidupan mental yang meliputi sikap, sifat, karakter dan kepribadian. Namun demikian, perlu disadari bahwa kita merasa cukup puas apabila kita mempunyai aspek-aspek tersebut dengan sendirinya kita akan memperoleh kualitas dalam kehidupan pribadi. Kuncinya adalah keberanian untuk mencoba dan melakukan tindakan-tindakan positif secara nyata dari Kepala Sekolah, Go Action!!.
Untuk dapat mengimplementasikan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental maka Kepala Sekolah harus membangkitkan pilar-pilar yang kuat yang dimiliki oelh setiap pribadi guru. Empat pilar tersebut meliputi: Kesadaran Diri, Pengaturan Diri, Pembiasaan Diri dan Evaluasi Diri. Keempat pilar tersebut merupakan suatu siklus yang saling terkait dan saling melengkapi satu sama lain, untuk kemudian membangun suatu motivasi diri masing-masing pribadi guru, sehingga memiliki ”Semangat kerja” dan ”Kepuasan kerja” yang tinggi, pada akhirnya mampu mencapai kinerja yang tinggi, ”High Performance”.

4 Pilar Membangun Kualitas Pribadi
PQM Motivasi 1Untuk membangun kualitas pribadi individu guru dalam upaya meningkatkan motivasi dan kerpuasan kerja dapat dilakukan dengan 4 pilar yaitu : Kesadaran Diri, Pengaturan Diri, Pembiasaan Diri dan Evaluasi Diri, diharapkan dengan terbentuknya pribadi yang berkualitas akan menghidupkan/mengungkit motivasi (Leverage to Motivation) dalam diri setiap guru yang pada akhirnya dapat memberikan semangat dan kepuasan dalam bekerja untuk mencapai hasil kerja yang tinggi (high performance).

PILAR 1: ”Kesadaran Diri”
Kesadaran diri yang dimiliki oleh setiap guru perlu dibangkitkan, melalui penyadaran ”kesadaran diri” tersebut, seseorang akan menyadarkan seseorang untuk mau melakukan introspeksi diri, bahwa kegagalan segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri, atas kehendak dirinya, dan berdasarkan pengendalian diri dalam diri sendiri. Dengan demikian, di dalam diri setiap individu guru ada kesadaran untuk memahami bahwa kualitas pribadi dapat berkembang dengan optimal apabila guru mempunyai kemauan untuk mewujudkannya.
Kesadaran diri yang dibangun seharusnya dapat membawa suatu pemahaman bahwa kualitas pribadi yang dimiliki merupakan hasil interaksi dari berbagai aspek yang ada di dalam diri setiap guru. Tidak hanya peranan dari aspek pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi aspek kemauan yang merupakan kehidupan mentalitas justru lebih banyak akan menjadi dasar bagi pengembangan kualitas pribadinya. Jadi, apabila kesadaran mengenai berbagai aspek tersebut akan menentukan pengembangan kualitas dirinya, tentu saja diharapkan setiap guru juga mempunyai kesadaran bahwa setiap aspek tersebut harus selalu diasah supaya tetap dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan yang ada, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Kesadaran diri untuk selalu memperbarui keadaan pengetahuan, dan kepribadian, merupakan suatu langkah untuk membangun kesadaran bahwa kesuksesan dalam bidang apapun tidak pernah akan tercapai apabila kita tidak mempunyai kesadaran tentang potensi-potensi yang dimiliki, baik berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun kepribadian guru. Untuk mewujudkan kesuksesan tersebut Kepala Sekolah harus membangun kesadaran bahwa dibutuhkan suatu ”proses”, bukan semata-mata ditentukan oleh hasil akhir yang berhasil diraih oleh guru.

Pilar 2: ”Pengaturan Diri”
Pengaturan diri akan membawa konsekuensi bahwa setiap aktivitas yang dilakukan oleh guru senantiasa merupakan bagian dari kemampuannya melakukan pengaturan diri sendiri. Kita adalah subjek bagi diri sendiri, jadi tanggung jawab Kepala Sekolah adalah menyadarkan guru bahwa dia adalah subjek bagi dirinya sendiri. ”Sebelum mengatur orang lain, aturlah diri sendiri”, ungkapan yang sarat makna untuk menyadarkan guru bahwa untuk bisa mengatur siswa, maka kita harus mampu mengatur diri kita, dan bahwa segala sesuatu ada di tangan kita.
Pengaturan diri yang efektif dapat diukur apabila dalam diri kita ada kemampuan untuk menetapkan sasaran-sasaran yang akan dituju. Terutama sasaran-sasaran pribadi. Ini merupakan ”roh” yang akan membangkitkan kita untuk mau melakukan aktivitas-aktivitas konkret. Dengan adanya aktivitasp-aktivitas tersebut ini dapat terlihat dengan jelas bagaimana efektivitas guru dalam mengatur dirinya sendiri.
Kegagalan guru dalam mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, kebanyakan bukan karena guru tidak mempunyai pengetahuan ataupun keterampilan. Banyak sasaran yang gagal dicapai oleh karena guru lebih banyak dikendalikan oleh berbagai macam emosi yang dimilikinya.
Jika demikian yang terjadi, aktivitas-aktivitas guru lebih banyak ditentukan oleh berbagai situasi emosi yang sedang dialami oleh guru. Sering terjadi, aktivitas-aktivitas yang dilakukan bukan berdasarkan tingkat kepentingan ataupun prioritas, tetapi lebih banyak hanya sebagai pelampiasan ekspresif dari keadaan emosi yang sulit dikelola dengan efektif. Memang tidak selamanya hal tersebut menghasilkan sesuatu yang buruk. Namun, apabila lebih banyak dikendalikan oleh keadaan emosional diri, hasilnya pun tentu saja tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Kualitas pribadi akan terlihat dengan jelas ketika suatu tindakan ada sasaran yang jelas, dan tindakan tersebut dilakukan saat diri mampu mengelola emosi secara efektif, dan berdasarkan tingkat kepentingan melalui efektivitas kita dalam mengelola waktu yang ada.

Pilar 3: ”Pembiasaan Diri”
Pembiasaan diri akan membawa seseorang utnuk mengubah paradigma. Oleh karena itu, peran Kepala Sekolah mampu mengarahkan dan menuntun setiap guru untuk dapat melakukan pembiasan diri yang positif. Jadi, jika Kepala Sekolah menginginkan kualitas pribadi yang dimiliki guru berkembang, senantiasa harus bersedia melakukan perubahan-perubahan terhadap diri sendiri sebagai teladan sehingga guru akan mengikutinya, pada akhirnya guru dapat melakukan pembiasan dirinya, melalui penyesuaian diri dengan berbagai perkembangan yang terjadi di sekitarnya.
Semuanya dapat berjalan dengan baik apabila hal tersebut dijadikan oleh masing-masing guru sebagai kebiasan hidup. Persoalanya, dalam menyikapi perubahan seringkali hanya senang pada satu fokus untuk sekedar mengubah perilaku, sementara perubahan mentalitas yang dilakukannya belum sepenuhnya menjadi sasaran pembenahan.
Tidak mengherankan apabila perubahan yang terjadi di dalam diri seringkali hanya bertahan sementara waktu dan cenderung kembali ke pola-pola perilaku yang lama. Hal tersebut akan terjadi juga ketika setiap guru menyesuaikan diri hanya pada aspek perilaku, sementara aspek mentalitasnya belum siap menyesuaikan diri. Oleh karena itu, membiasakan diri dengan perubahan dan membiasakan diri untuk menyesuaikan diri harus terus diupayakan oleh Kepala Sekolah, sehingga akan menjadi suatu kebiasan.

Pilar 4: ”Evaluasi Diri”
Evaluasi diri merupakan aktivitas konkret yang seharunya dilakukan oleh setiap guru, untuk melihat sejauhmana efektivitas sikap dan tindakan guru, apakah menghasilkan sesuatu yang optimal bagi dirinya, orang lain, atau lingkungan kerja dan masyarakat.
Dalam evaluasi diri ini ada semacam kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap diri sendiri (self appraisal), meskipun harus juga melibatkan orang lain, tetapi intinya adalah masing-masing diri guru itu sendiri.
Dalam mengevaluasi diri, pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dikemukakan adalah: ”sudah optimalkah kita dalam menggunakan potensi-potensi yang dimiliki?, untuk itu di dalam setiap diri perlu ada keberanian untuk meminta umpan balik dari orang lain. Peranan kepala sekolah dalam hal ini, sangat berarti untuk memberikan umpan balik, karena dari orang lain sesungguhnya mereka dapat bercermin.
Kepala Sekolah perlu mengetahui dan ”pandai” untuk ”memancing” keberanian guru untuk membuka diri terhadap umpan balik, dalam bentuk kritikan pada dasarnya berguna untuk menumbuhkan kesadaran bahwa dengan itu guru berani mengevaluasi diri supaya potensi-potensi yang dimilikinya berkembang secara optimal.
Kemampuan evaluasi diri ini juga merupakan kesempatan bagi guru untuk kembali membangun kesadaran diri, melakukan pengaturan diri, dan melakukan pembiasaan diri dalam seluruh aspek yang ada di dalam diri, supaya dapat menjadi lebih berkembang untuk mewujudkan kualitas pribadi.

Pilar-pilar ini akan kuat apabila digunakan setiap saat, setiap sisi kehidupan. Peranan Kepala Sekolah dalam membangun dan mengembangkan kualitas pribadi melalui empat pilar tersebut dapat menciptakan guru yang memiliki kualitas pribadi yang kuat. Pada kebanyakan di sekolah, beberapa peran dan tugas penting hanya di”dominasi” oleh sekelompok kecil guru, misalnya oleh Staf dan Wakil Kepala Sekolah saja. Sedangkan, guru lain yang jumlahnya lebih banyak seringkali terabaikan.
Penelantaran ”kualitas pribadi” sebagian besar dari guru ini dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi, oleh karena kerja secara team tidak dapat terjalin ”kompak”, seringkali justru memunculkan: sikap masa bodoh, saya tidak terlibat/dilibatkan, dan lain-lain. Sebaliknya, pilra-pilar ini akan menjadi kuat apabila Kepala Sekolah mau menggunakannya dalam setiap sisi kehidupan organisasi. Apabila hanya didiamkan saja padahal Kepala Sekolah mengerti dan tahu bahwa pilar-pilar itu sangat berperan dalam mengembangkan kualitas hidup, maka lambat-lambat laun pilar-pilar tersebut akan menjadi keropos dan menjadi rintangan dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Kepala Sekolah kepada guru tersebut.
Pilar-pilar yang telah digambarkan dan dijelaskan tersebut, akan merupakan suatu siklus yang terus berjalan apabila terus dibangun dan dikembangkan oleh Kepala Sekolah untuk membangun dan mengerucut pada satu titik kulminasi yaitu motivasi. Jadi, apa yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dalam mengembangkan ”kualitas diri” para guru tidak lain yaitu untuk membangun motivasi guru, melalui motivasi inilah akan dihasilkan aspek kepuasan kerja, dan keduanya akan mendorong guru untuk menghasilkan high performance (kinerja tinggi).

Sumber: E.Widijo HM, PQM, 2006.

One thought on “Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s