Kedisiplinan dengan Role Playing (Bermain Peran)


Perhatian!!, sebelum “COPAS”, dipersilahkan “kulonuwun” dulu. Trims

Kedisiplinan Belajar dapat ditanamkan kepada siswa-siswi melalui beberapa metode pembelajaran di kelas. Pilihan metode atau model pembelajaran merupakan bagian yang penting dan membutuhkan kejelian serta inovasi guru dalam proses transformasi ilmu pengetahuan atau nilai-nilai. Kita menyadari bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal, agar dengan pendidikan potensi dirinya dapat berkembang melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan dilakukan oleh masyarakat. Lahirnya generasi baru yang cerdas dan handal adalah suatu keharusan bagi suatu bangsa, para pendidk (guru) serta orang tua. Seperti yang tercermin dalam nilai-nilai mata pelajaran Pkn, bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang cerdas. Cerdas disini bukan hanya IQ (Intellegences Quontien/potensi intelektual) saja yang selama ini telah membudaya di masyarakat. Juga, cerdas dalam EQ (Emotional Quontien) dan SQ (Spiritual Quontien). Dengan mendidik dan mencerdaskannya secara baik, berarti kita telah memberikan warisan yang terbaik bagi mereka.
Nilai-milai yang terkandung dalam pelajaran Pkn selama ini hanya dianggap sebagai pembelajaran menghapal, dan bersifat teoritis pada kenyataannya. Justru penanaman nilai-nilai Pkn pada diri siswa yang kurang.
Bukan hanya nilai kuantitatif yang didapat oleh para siswa, tetapi para siswa juga harus mendapatkan atau mencapai nilai kualitatif yaitu suatu nilai kepribadian yang diperoleh dari sebuah pembelajaran.
Sistem pendidikan nasional yang awalnya bersifat sentralisasi, seiring pemberlakuan otonomi daerah tahun 1999 berubah menjadi desantralisasi yang ditandai dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pembaharuan dari visi pendidkan nasional adalah terwujudnya sisrem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan seluruh warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan produktif manjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Uapaya meningkatkan kedisplinan belajar siswa merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang, yang berkecimpung dalam propesi keguruan dan pendidikan. Banyak upaya yang tel;ah dilakukan dan banyak pula keberhasilan yang telah dicapai, meslipun keberhasilan itu belum sepenuhnya memberuikan kepuasan bagi masyarakat dan para pendidik, sehingga sangat menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Proses dan pemecahan masalah pembelajaran di kelas dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya melalui diskusi kelas, Tanya jawab antara guru dan peserta didik, Inquiry dan metode-metode lain.Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk dapat membawa dirinya sebagai agen pembawa informasi dengan baik. Guru yang kreatif selalu mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton. Untuk melaksanakan proses pebelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat.
Pemilihan metode ini disamping disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran juga ditetapkan dengan melihat kegiatan yang akan dilakukan , metode pembelajaran sangat beraneka ragam, guru dapat memilih metode pembelajaran yang efektif untuk mengantarkan siswa mencapai tujuan.
Proses kegiatan belajar mengajar, keberhasilannya sangat ditentukan oleh seorang guru yang melakukan transfer ilmu (knowledge transfer) melalui proses pembelajrannya,dalam hal ini strategi pembelajaran menjadi penting dalam proses belajar tersebut. Banyak metode pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh para gura, metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, antara lain :Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode diskusi, Metode pemberian tugas, Metode demontrasi, Metode karyawisata, Kerja kelompok (inquiri), Metode bermain peran, Metode dialog, Mtode bantah membantah, dan Metode bercerita (Muhammad Nurdin, 2004)

Kemampuan guru dalam memilih dan memilah metode, yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Tuntutan tersebut mutlak dilakukan oleh seorang guru, apabila melalukan transfer ilmu khususnya Pkn. Hal tersebut juga sejalan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang sangat memperhatikan kepentingan metode pembelajaran yang akan digunakan.
Terdapat banyak strategi metode pembelajaran, dan dari sekian banyak metode pembelajaran tersebut,dapat dikatakn bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran satu dengan model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam tersebut. Tidaklah cukup bagi seorang guru untuk hanya menggantungkan diri pada satu model pembelajaraan saja.
Kondisi suatu sekolah pada umumnya gurunya memiliki kemampuan atau potensi mengajar yang besar,dan memiliki pengalaman yang luasdalam hal mengajar, akan tetapi mayoritas guru dalam menyajikan pembelajaran masih bersifat monoton yaitu guru berbicara murid mendengarkan, guru membaca murid menulis.
Metode yang digunakan para guru pada saat proses pembelajaran sebagian besar menggunakan metode ceramah,yang kadang menimbulkan rasa jenuh pada diri siswa, sehingga dalam beberapa waktu kemudian siswa kurang tertarik lagi akan situasi belajar, kondisi inilah yang menyebabkan nilai kedisplinan siwa dalm hal belajar dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan kurang diterapkan dalam diri siswa, sehingga mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut, tentang metode yang dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dalam belajar.
Pengamatan awal yang dilakukan terhadap 42 siswa, sebanyak 12 siswa atau 5,04% tingkat kedisplinannya rendah, hal ini diduga penyebabnya adalah pembelajaran di sekolah masih menggunakan metode pembelajaran yang kurang diminati dan belum pula dapat menumbuhkan sikap disiplin pada diri siswa. Metode yang tepat dalam menanamkan sikap disiplin siswa adalah metode Role Playing (bermain peran), beberapa alasannya adalah :
1. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk memecahakan masalah yang dihadapinya secara nyata.
2. Dengan metode bermain peran membantu para siswa menentukan makna-makna kehidupan dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya.
3. Melatih siswa untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratif sekaligus bertanggung jawab dalam mengimplementasikan nilai-nilai pancasila.

Atas dasar penjelasan yang ringkas tersebut, maka diidentifikasi masalah, sebagai berikut:
1. Apakah yang menyebabkan kondisi kedisiplinan guru sekolah, masih belum optimal?
2. Apakah proses pembelajaan yang dilakukan oleh para guru selama ini sudah optimal berdasarkan rencana-rencana yang dibuatnya?
3. Apakah cara atau langkah yang dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dalam belajar sudah baik?
4. Apakah upaya guru Pkn dalam menerapkan metode bermain peran dalam proses pembelajaran di kelas sudah benar?
5. Mengapa metode bermain peran dapat meningkatkan kedisiplinan belajar siswa
6. Bagaimana upaya pimpinan/sekolah dalam meningkatkan kedisplinan belajar siswa melalui metode bermain peran?

Pembatasan Masalah
Karena demikian luas dan komplek dari permasalahan yang ada, maka dalam penelitian ini penulis bermaksud membatasi masalah yang ada yaitu upaya meningkatkan kedisiplinan belajar siswa melalui metode bermain peran. Pembatasan yang dimaksud berkaitan dengan kedisiplinan belajar siswa dan metode pembelajaran bermain peran yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Disiplin belajar yaitu sikap yang harus ditanamkan dan dikembangkan pada setiap diri manusia sebagai latihan yang bertujuan mensgembangkan watak agar dapt mengendalikan diri dan berperilaku tertib.
b. Bermain peran, adalah suatu bantuk permainan dimana seorang anak (siswa) dapat menjadi apa saja yang memiliki seperangkat prilaku tertentu yang unik, atau memerankan yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran baik di dalam peran baik di dalam kelas atau pertemuan.

Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang ada, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diajukan sebagai berikut, bagaimana upaya meningkatkan kedisiplinan belajar siswa melalui metode bermain peran?

Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk :
a. Meningkatkan proses belajar mengajar di kelas dengan metode Role Playing (Bermain peran)
b. Mengimplementasikan pembelajaran dengan metode bermain peran untuk meningkatkan kedisiplinan belajar.
c. Dapat dijadikan acuan dalam menyusun rencana pembelajaran dengan metode bermain peran.
d. Melalui metode bermain peran dapat mengembangkan potensi yang terdapat dalam diri anak, baik potensi spiritual, emosional intelektual, sosial dan fisiknya
.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, baik manfaat secara praktis maupun teoritis.
a. Manfaat secara praktis yaitu :
1) Bagi penulis, sebagai referensi dan dapat lebih mengembangkan metode pembelajaran di sekolah
2) Bagi sekolah dan dewan guru dapat meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan metode yang efaktif yang salah satunya metode bermain peran yang berguna meningkat kedisiplinan belajar siswa
3) Bagi masyarakat, untuk menambah wawasan keilmuan, khususnya dalam memilih metode dan menyajikan materi pelajaran
Sedangkan, manfaat secara teoritis yaitu :bahwa hasil penelitian dapat menjadikan sumbangan pemikiran bagi guru-guru

Sumber Inspirasi Tulisan: Dari Berbagai Sumber PTK

13 thoughts on “Kedisiplinan dengan Role Playing (Bermain Peran)

  1. Assalamualaikum….boleh juga, skripsi saya juga membahas tentang bermain peran. teori yang saya gunakan adalah teori drama. oleh penguji langsung dibantah. bermain peran tidak sama dengan drama.

    • waalaikum salam, ……. betul drama dan bermain peran terdapat perbedaan. Drama merupakan satu cerita sedangkan bermain peran,….seseorang memerankan saja … perbedaanya pada satu penggal dimana siswa berperan …. saja , di dalam drama ada sejumlah peran-peran lainnya…dari orang lain, sedangkan bermain peran ya seseorang yang memerankan saja …satu penggal…. kemudian …siswa lain …berperan lain lagi pada cerita atau seting lain … jd jika pembelajrn dalam bentuk drama biasanya dimainkan atau diperankan oleh beberapa siswa

  2. Assalamu’alakum….mw bertanya, kalo durasi drama dengan bermain peran beda yah? salah satu dosen saya pernah bilang kalau drama itu berdurasi minimal 2,5 jam dan tidak bisa d praktekkan dalam pengajaran d kelas karena terbatasny waktu, betul itu pak?

  3. pak, saya minta ya saya bingung judul skripsi ini pak..
    saya ingin menumbuhkan kedisiplinan siswa tapi bingung menggunakan metode apa, cocok gitu pak kalo metodenya role playing?? saya boleh minta kan pak??
    maaf sebelumnya tolong kirim ke email saya pak vitha_chuuby25@yahoo.com
    terima kasih sebelumnya pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s