Opo … TTW, tuh??


Strategi Think-Talk-Write Pada IPA

Suatu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat menumbuh kembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa adalah strategi think talk write (TTW). Strategi ini diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin, pada dasarnya dibangun melalui berfikir, berbicara, dan menulis. Alur kemajuan TTW dimulaidari keterlibatan siswa dalam berfikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan jumlah 3-5 orang siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Aktivitas berfikir (think) dapat dilihat dari proses membaca suatu teks IPA atau berisi cerita sain (ilmu pengetahuan) kemudian membuat catatan apa yang telah dibaca. Dalam membuat atau menulis catatan siswa membedakan dan mempersatukan ide yang disajikan dalam teks bacaan, kemudian menerjemahkan kedalam bahasa atau kalimat sendiri. Menurut Wiederhold (1997) dalam Yamin dan Ansari (2008:85), membuat catatan berarti menganalisiskan tujuan isi teks dan memeriksa bahan-bahan yang ditulis. Selain itu, belajar rutin membuat/menulis catatan setelah membaca merangsang aktivitas berfikir sebelum, selama dan setelah membaca. Membuat catatan mempertinggikan pengetahuan siswa, bahkan meningkatkan keterampilan berfikir dan menulis. Salah satu manfaat dari proses ini adalah, membuat catatan akan menjadi bagian integral dalam setting pembelajaran.
Menurut Wiederhold (1997), dinyatakan bahwa : “Kemampuan membaca, dan membaca secara komprehensif (reading comprehension) secara umum dianggap berfikir, meliputi membaca baris demi baris (reading the line) atau membaca yang penting saja (reading between the lines)”. Seringkali suatu teks bacaan diikuti oleh panduan, bertujuan untuk mempermudah diskusi dan mengembangkan pemahaman konsep (Narode, 1996). Dalam strategi ini tekks bacaan selalu dimulai dengan soal-soal konstekstual (contextual problems) yang diberi sedikit panduan sebelum siswa membuat catatan kecil.
Setelah tahap “think” selesai dilanjutkan dengan tahap berikutnya “talk’ yaitu berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Guru sering mendengar keluhan siswanya: “I can do it, but I can’t explaint it”. “Doing is important, but students understanding and communicating what they are doing is more important (Szetela, 19930. Mengapa “talk” penting dalam pembelajaran. Talk penting karena, beberapa hal:
(1) Apakah itu tulisan, gambaran, isyarat, atau percakapan merupakan perantara ungkapan matematis sebagai bahasa manusia
(2) Pemahaman matematis dibangun melalui interaksi dan konversasi (percakapan) antara sesama individual yang merupakan aktivitas sosial yang bermakna
(3) Cara utama partisipasi komunikasi dalam IPA adalah melalui talk. Siswa menggunakan bahasa untuk menyajikan ide kepada temannya, membangun teori bersama, sharing strategi solusi, dan membuat definisi
(4) Pembentukan ide (forming ideas) melalui proses talking. Dalam proses ini, pikiran seringkali dirumuskan, diklarifikasikan atau direvisi
(5) Internalisasi ide (internalizing ideas). Dalam proses konversasi internalisasi IPA ini dibentuk melalui berfikir dan memecahkan masalah. Siswa mungkin mengadopsi strategi lain, mereka mungkin bekerja dengan memecahkan bagian dari masalah/soal yang lebih mudah, mereka mungkin belajar frase-frase (bagian) yang dapat membantu mereka mengarahkan pekerjaannya
(6) Meningkatkan dan menilai kualitas berfikir. Talking membantu guru mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam belajar IPA, sehingga dapat mempersiapkan perlengkapan pembelajaran yang dibutuhkan.
Sesuai paragraf di atas, fase berkomunikasi (talk) pada startegi pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk terampil berbicara. Pada umumnya, menurut Huineker dan Laughlin (1996), berkomunikasi dapat berlangsung secara alami, tetapi menulis tidak. Proses komunikasi dipelajari siswa melalui kehidupannya sebagai individu yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Secara alami dan mudah proses komunikasi dapat dibangun di kelas dan dimanfaatkan sebagai alat sebelum menulis. Misalnya, siswa berkomunikasi tentang ide IPA yang dihubungkan dengan pengalaman mereka, sehingga mereka mampu untuk menulis tentang ide tersebut.
Selain itu, berkomunikasi dalam suatu diskusi dapat membantu kolaborasi dan meningkatkan aktivitas belajar dalam kelas. Hal ini mungkin terjadi karena ketika siswa diberi kesempatan untuk “berkomunikasi dalam IPA” sekaligus mereka berfikir bagaimana cara mengungkapkannya dalam tulisan. Oleh karena itu, keterampilan berkomunikasi dapat mempercepat kemampuan siswa mengungkapkan idenya melalui tulisan. Selanjutnya, berkomunikasi atau berdialog baik antar siswa maupun dengan guru dapat meningkatkan pemahaman. Hal ini bisa terjadi karena ketika siswa diberi kesempatan untuk berbicara atau berdialog, sekaligus mengkonstruksi berbagai ide untuk dikemukakan melalui dialog.
Selanjutnya fase “write” yaitu menuliskan hasil diskusi/dialog pada lembar kerja yang disediakan (Lembar Aktivitas Siswa). Aktivitas menulis berarti mengkonstruksi ide, karena setelah berdiskusi atau berdialog antar teman dan kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Menulis dalam IPA membantu merealisasikan salah satu tujuan pembelajaran, yaitu pemahaman siswa tentang materi yang ia pelajari (Shield dan Swinson, 1996). Aktivitas menulis akan membantu siswa dalam membuat hubungan dan juga memungkinkan guru melihat pengembangan konsep siswa. Selain itu, Masingila dan Wisniowska (1996) mengemukakan bahwa “aktivitas menulis siswa bagi guru dapat memantau kesalahan siswa, miskonsepsi, dan konsepsi siswa terhadap ide yang sama.
Aktivitas siswa selama fase ini adalah: (1) menulis solusi terhadap masalah/pertanyaan yang diberikan termasuk perhitungan; (2) mengorganisasikan semua pekerjaan langkah demi langkah, baik penyelesaiannya ada yang menggunakan diagram, grafik, ataupun tabel agar mudah dibaca dan ditindaklanjuti; (3) mengoreksi semua pekerjaan sehingga yakin tidak ada pekerjaan atau perhitungan yang ketinggalan; (4) meyakini bahwa pekerjaannya yang terbaik yaitu: lengkap, mudah dibaca, dan terjamin keasliannya.

Selebihnya…..cari bukunya sendiri yah, sorry neh mau sy jadiin tugas PTK saya tentang Pembelajaran IPA SMP….!!

Sumber Tulisan: Martinis Yamin dan Bansu I Ansari, 2008.

6 thoughts on “Opo … TTW, tuh??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s