PTK Agama:Model Strategi Pembelajaran Afektif Model Value Clarification Technique (VCT)


A. Latar Belakang Masalah

Pembentukan dan pengembangan sikap dan moral seorang siswa melalui pendidikan agama di sekolah menjadi sangat penting, dasar agama untuk membentuk pribadi yang agamis (bertaqwa) merupakan kebutuhan rohaniah selain kebutuhan akademis melalui ilmu pengetahuan. Namun demikian, kondisi kurikulum yang sangat padat, serta kendala-kendala lain menuntut proses pembelajaran pendidikan agama perlu dilakukan secara baik, mencapai tujuan, dan dapat menanamkan nilai-nilai agama tersebut untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Undang-undang No.23 Tahun 2003 Pasal 3, menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Rumusan tujuan pendidikan tersebut, sarat dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap dan nilai. Oleh karena itu, tuntutan akan kemampuan guru untuk memilih dan memilah metode, yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan harapan akan keberhasilan pencapaian prestasi belajar siswa dalam pelajaran agama. Tuntutan tersebut mutlak dilakukan oleh seorang guru agama apabila melaksanakan transfer pendidikan agama. Hal tersebut juga sejalan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang sangat memperhatikan pentingnya metode pembelajaran yang akan digunakan oleh seorang guru.

Pendidikan agama, khususnya agama Islam pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menekankan pada penanaman aspek-aspek akidah, ibadah, dan praktek-praktek amaliah, serta pengalaman langsung untuk menanamkan dan mengembangkan sikap moral atau perilaku yang terpuji, agar siswa mampu memahami dan menjalankan pengalaman-pengalaman belajar yang diterimanya di kelas. Pendidikan agama juga diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang sikap moral, dan hubungan sosial antara individu (hablum minna nass), serta hubungan dirinya dengan sang pencipta (hablum minnaallah).

Hal tersebut sesuai juga dengan tingkat perkembangan siswa SMP yang masih berada dalam masa transisi dari konkrit ke formal. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak lepas dari peran guru agama. Bagi guru agama, dalam upaya peningkatan penguasaan materi pelajaran dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, diperlukan strategi dan metode dalam penyampaian (transfer knowledge) pelajaran agama tersebut.

Keberhasilannya pembelajara sangat ditentukan oleh guru yang melakukan transfer ilmu (knowledge transfer) melalui proses pembelajarannya, dalam hal ini strategi pembelajaran menjadi penting. Muhamad Nurdin (2004), menyatakan, metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, antara lain : (a) metode ceramah; (b) metode tanya jawab; (c) metode diskusi; (d) metode pemberian tugas; (e) metode demonstrasi; (f) metode karyawisata; (g) metode kerja kelompok (inquiry); (h) metode bermain peran; (i) metode dialog; (j) metode bantah membantah; dan (k) metode bercerita, dan lain-lain.
Tujuan pembelajaran dapat tercapai jika guru dapat mengoptimalkan faktor-faktor yang menjadi pendukungnya, sedangkan faktor penghambat dapat diminimalisir atau dihilangkan. Terdapat banyak metode pembelajaran, dan dari sekian banyak metode pembelajaran terebut, dapat dikatakan bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran satu dengan model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam tersebut. Tidaklah cukup bagi seorang guru untuk hanya menggantungkan diri pada satu model pembelajaran saja.

Atas dasar pemikiran dan uraian tersebut, maka penulis mencoba faktor pendukung utama yang dapat mempengaruhi nilai dan sikap yaitu dengan menerapkan Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT). Dalam menerapkan model pembelajaran VCT, guru agama diharapkan dapat menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan bagi siswa, sehingga minat belajar, dan motivasi siswa meningkat, yang pada gilirannya tujuan pembentukan nilai-nilai dan sikap hidup dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

Diharapkan, dengan bermodalkan pada kemampuan melaksanakan berbagai model pembelajaran yang dikuasainya, maka guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan cocok dengan lingkungan belajar di sekolahnya masing-masing. Dalam hal ini, penelitian ini akan mengkaji model pembelajaran kooperatif Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT) terhadap perubahan nilai dan sikap siswa kelas VIII di SMPN 96 Jakarta.

B. Identifikasi Masalah

Bertitiktolak dari uraian latar belakang tersebut di atas, maka beberapa permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Apakah guru Agama Islam sudah melaksanakan pembelajaran secara efektif?
2. Faktor apakah yang menjadi hambatan dalam proses pembelajaran pendidikan Agama Islam?
3. Apakah faktor metode pembelajaran mempengaruhi pembentukan nilai dan sikap para siswa?
4. Apakah dengan Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT) dapat meningkatkan nilai dan sikap kehidupan siswa?

C. Rumusan Masalah

Sesuai dengan judul, kajian latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka masalah dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT) pada siswa kelas VIII?
2. Bagaimana keberhasilan perubahan nilai dan sikap siswa kelas VIII setelah diberikan materi pelajaran perilaku terpuji dan perilaku tercela?

D.Pembatasan Masalah

Oleh karena banyaknya permasalahan yang ada, maka tidak mungkin seluruh masalah tersebut di atas dikaji atau diteliti, sehingga perlu dilakukan pembatasan masalah. Dari masalah-masalah yang ada, penulis membatasi pembahasan pada keberhasilan Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT) dalam perubahan nilai dan sikap pada topik perilaku terpuji dan perilaku tercela pada siswa VIII pada SMPN 250 Jakarta.

E. Maksud Penelitian

Pada penelitian yang dibatasi untuk masalah pengaruh Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT) terhadap keberhasilan perubahan nilai dan sikap pada topik perilaku terpuji dan perilaku tercela siswa kelas VIII, dirumuskan tujuan penelitian, yaitu :
1. Mengetahui pelaksanaan model Strategi Pembelajaran Afektif model Value clarification technique (VCT)
2. Mengetahui keberhasilan perubahan nilai dan sikap siswa kelas VIII pada topik perilaku terpuji dan perilaku tercela

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, khususnya manfaat praktis yaitu bagi siswa, guru, sekolah dan penentu kebijakan. Sedangkan, manfaat teoritis antara lain sebagai rujukan dalam penelitian lanjutan pendidikan agama Islam.

1. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Memberi pengalaman langsung bagi siswa untuk berbuat sehingga memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang perilaku terpuji, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
b. Bagi Guru
Memberi masukan pada sesama rekan guru biologi bahwa untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa selama dalam proses pembelajaran, guru harus dapat memilih dan menerapkan metode yang sesuai dengan topik dan tujuan pembelajaran

c. Bagi Sekolah
Membantu upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekolah, perubahan nilai dan sikap yang berkualitas dalam disiplin di sekolah, serta menjadi lulusan SMPN 250 Jakarta terbaik.

2. Manfaat Teoritis
Sedangkan, manfaat secara teoritis antara lain dapat dijadikan sebagai wahana ilmu pengetahuan dan rujukan dalam penelitian lanjutan.

Sumber Inspirasi Tulisan: Dari Berbagai Sumber

4 thoughts on “PTK Agama:Model Strategi Pembelajaran Afektif Model Value Clarification Technique (VCT)

  1. Alhamdulillah bagus sekali tulisan Anda.Namun alangkah lebih bagus lagi kalau ditambahkan tanggapan siswa terhadap strategi pembelajaran yang Anda terapkan.Maaf ya menggurui.Saya juga belum tentu bisa menulis sebagus ini.hiiiii…..

    • WW, …. Trim: Ya …memang baru bab I,… skrg sy posting bab 2nya…dst berlanjut. Klo ibu berminat silahkan copas buat bhn penelitian (KI atu PTK.. terserah), tp tlog narasinya diperkaya shg kelihatan bkn jiplakan/plagiat dr sy…. Ok, selamat mencoba. Jk ada kesulitan silahkan konform sy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s