Untuk Sahabat: Lesdoup


Dari pengalaman saya, dan juga guru senior, saat paling tepat adalah pada pertemuan pertama guru dengan siswa (biasanya awal ajaran baru) maka sebisa mungkin perkenalkan diri kita sebagai guru yang memiliki komitmen…tanamkan bhw “saya/guru” memiliki aturan pembelajaran yang perlu ditaatidan ini harus dijalankan!. Misalnya, saya guru IPA…kepada siswa diberitahukan pelajaran IPA yang perlu disiapkan adalah buku catatan, lembar portofolio siswa yg digunakan untuk mengerjakan tugas/PR atau latihan jajakan soal, dll., dan Buku rujukan yang biasanya disiapkan oleh sekolah. Sedangkan LKS (lembar kerja siswa) dibuat oleh guru sesuai kebutuhan pembelajaran atau materi yang akan diajarkan.

Aspek kedisiplinan dan pembinaannya guru harus komitmen juga, misalnya pada saat masuk jam pertama lihat kelas secara menyeluruh sudah siapkah siswa, sudah bersihkah kelasnya?, Jika blm lakukan sesuatu dengan cara persuasive guru meminta mempersiapkan kondisi kelas agar benar-benar siap, misalnya kelompok siapa yang bertugas piket hari ini, maka guru dapat meminta siswa untuk melaksanankan tugasnya. Di sekolah saya ada peraturan/tata tertib sekolah dengan segala konsekuensi hukumannya/punishmentnya dalam bentuk poin pelanggaran, jadi jika ada siswa yang melanggar maka akan diberikan poin…pelanggaran, dan dalam jumlah tertentu dalam satu tahun poin ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk dapat mengembalikan siswa kepada orangtuannya, tentunya melalui proses Bimbingan Konseling dan peran wali kelas untuk diinformasikan kepada orangtu siswa. Dengan cara demikian, insyaallah diharapkan dapat membimbing siswa kearah yang lebih baik, dan terbukti …. cara tersebut di sekolah kami cukup efektif.

Kembali ke masalah pembelajaran, jadilah guru yang disenangi oleh siswanya. Banyak cara untuk menggapai hal tersebut, antara lain:
1. lakukan cara mengajar yang tidak membosankan, eksplorasi diri guru seoptimal mungkin tentunya untuk memulainya berat, tapi harus dilakukan. Jangan malu untuk berkolaborasi dengan rekan guru yang dianggap mampu atau memiliki kemampuan lebih dari kita
2. gunakan media atau perangkat IT (bila ada) dan sumber belajar yang ada di sekolah seoptimal mungkin sehingga siswa menjadi senang dan respek kepada kita dalam setiap kali kita masuk kelas
3. tumbuhkan sikap empati kepada setiap siswa, walau kadang ada saja siswa yg nyeleneh, dll yang membuat guru “geregetan”. Jika tidak bisa menanganinya kerjasamalah dengan wali kelas atau guru BK

Berikan apa yang dibutuhkan siswa terhadap pelajaran yang kita ampu, misalnya saya mengajar IPA seringkali siswa tidak/susah memahami soal-soal Fisika…kayaknya siswa “nggak mudeng-mudeng“ di kasih contoh yang menurut kita sudah sangat gamblang tapi yach …tetep aja kalo ditanya : “apakah kalian sudah mengerti?, jawabnya pasti lebih dari 50% …..beluuuuuuuuuuuuuuum. Ya memang pelajaran IPA salah satu pelajaran yang menjadi momok bagi siswa. Tapi jangan putus asa …berikan contoh-contoh soal dan penyelesaiannya minimal 2 soal pengulangan, berikan juga PR sebagai latihan di rumah, dan jangan lupa pertemuan berikutnya PR tsb harus dibahas/dijelaskan di kelas. Berikan pujian kepada siswa yang bisa mengerjakan dan arahkan dia sebagai tutor sebaya bagi teman-temannya yang belum mengerti. Jika juga belum berhasil misalnya masih juga terdapat 50% siswa yang belum berhasil, maka terhadap materi tsb perlu direvisi khususnya tujuan yang hendak dicapainya (tujuan instruksionalnya) ….atau diperlukan perbaikan dengan cara pengayaan atau remedial.
Memang dalam kenyataannya, latar belakang siswa sangat heterogen baik kemampuan akademisnya, maupun hal-hal lainnya. Oleh karena itu, guru dalam membuat rencana pembelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut, sehingga penetapan tujuan pembelajaran tidaklah muluk-muluk, misalnya: guru terlalu memaksakan siswanya untuk dapat/mahir dalam menyelesaikan soal-soal perhitungan massa jenis benda (kelas VII SMP), …agar siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata dapat mencapai KKM yang ditetapkan. Jika tujuan pembelajaran yang hendak dicapai tidak cocok untuk mentargetkan seluruh siswa mampu dan mahir mengerjakan atau menghitung massa jenis benda tersebut dengan soal-soal Fisika yang “ngejelimet”, maka rubahlah target pencapaian tujuan pembelajarannya. Namun, sebagai pendalaman berikan contoh, berikan saja dalam bentuk soal-soal jajakan, bukan untuk diujikan dalam ulangan harian, kalau soal ngejelimet diberikan untuk ulangan …….pasti hasilnya dibawah jeblok, ..alias dibawah KKM!! Dan pasti apa yang anda tanyakan …siswa yang “kurang mampu alias siswa dengan kemampuan pas-pasan akan menghambat ketuntasan target kurikulum yang diprogramkan guru.

Tentang sikap, ……etika guru dan siswa, memang saya juga merasakan perbedaan saat pertama saya mengajar tahun 1984 dengan sikap siswa sekarang ini. Tapi ada satu hal yang penting dan perlu digarisbawahi, bahwa apabila guru memiliki komitmen terhadap pekerjaanya, kepribadian baik, dan hal-hal yang sudah saya sebut di atas (minilan 3 hal di atas),….insyaallah siswa akan merasa segan (hormat) dan respek kepada kita sebagai guru. Sebagai contoh, ketika saya mengajar Fisika materi tekanan saya persiapkan bahan, alat dan metodenya. Saya siapkan metode pembelajaran dengan slide yang saya buat semenarik mungkin dan semampu saya, hasilnya………begitu selesai mengajar : subhanallah…siswa memberikan salam dan sekaligus mengucapkan terima kasih!!.

Pandai-pandailah jadi guru, kita selami apa kemauan belajar siswa….dengarkan kata hatinya, misalnya baru-baru ini siswa mengeluh …pak kapan belajar di lab IPA lagi?, atau kalimat yang tulus keluar dari siswa : ”Pak bosan belajar di kelas terus?”. Katakan pada siswa ya nanti kita belajar di Lab atau di luar kelas ……tentunya saya harus menepati janji saya …dengan memperhatikan situasi dan kondisi, misalnya saya akan cari materi yang tepat untuk belajar di luar ruangan/kelas. Insyaallah dengan melakukan hal-hal tersebut siswa minimal segan terhadap kita dan akan hormat terhadap gurunya. Namun demikian, saya masih beranggapan sifat yang disebutkan oleh anda (Lesdoup) tidak generalisasi, atau tidak semua siswa tidak memiliki sikap yang tidak etis atau tidak beretika …masih banyak juga siswa-siswa yang beretika, misalnya saja: siswa di sekolah kami …setiap ketemu gurunya cium tangan sebagai tanda salam hormat.

Menjawab soal kasus ”guru dan siswa” saya kira memang pasti terjadi, masalahnya terpulang kepada guru dan sekolahnya…….sejauh ini di tempat saya mengajar tidak ada masalah, maaf jadi masalahnya terpulang kepada sekolah dan gurunya, serta peran pimpinan kepala sekolah yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang baik, sekolah sebagai wawasan wiyata mandala perlu diciptakan dan dikembangkan. Di era tahun 80-an sampai 90-an yang namanya ”kekerasan terhadap siswa yang dilakukan oleh guru sangat sering terjadi”, bahkan guru merokok di kelas, duduk di meja pun sudah lumrah, namun sekarang alhamdlulillah hal itu tidak ada, setidaknya di sekolah tempat saya mengajar.

Sebagai penjelasan akhir, untuk menjadi guru yang baik terutama dalam proses pembelajaran, ada beberapa saran/tips, persiapkan semaksimal mungkin rencana pembelajaran yang akan disampaikan di depan kelas. Lakukan dengan berbagai model pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan, jenuh dan akhirnya tidak menyukai pelajaran yang diampu guru. Jadilah guru yang Imajinatif, Kreatif dan Inovatif, memang perlu motivasi dan kesabaran, serta pengorbanan (waktu dan materi) untuk melakukannya.
Semoga tulisan ini bermanfaat, ambil yang baiknya dan buang yang tidak pantas untuk anda. Selalu lakukan perubahan diri dalam mengelola pembelajaran siswa. Saya akui, saya juga masih banyak kekurangannya ….masih terus belajar dan ingin berbuat yang terbaik walau sekecil apapun di sekolah/kantor atau sesama tetangga, atau siapa saja.
Tidak ada seorang guru yang paling terbaik, yang ada adalah PENGALAMAN ADALAH GURU YANG PALING BAIK.

Salam untuk saudara-saudara guru se-Indonesia … investasi kita dunia, insyaallah menjadi amal ibadah kita.

Salam sejahtera dari Sis.AN., semoga dunia pendidikan kita lebih baik lagi di masa mendatang.

2 thoughts on “Untuk Sahabat: Lesdoup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s