Role Playing Bahasa Inggris: Landasan Teori


Penelitian tindakan kelas dengan strategi pembelajaran role playing pada kelas IX di SMP Negeri 96 Jakarta, didasarkan pada teori-teori yang sudah adayang secara rinci dijelaskan sebagai berikut sebagai landasan teoritisnya.

1. Model Pembelajaran
Pembelajaran, Menurut Usman ( 2000 : 4 ), menyatakan bahwa: “ …proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu” Proses pembelajaran merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam sebuah rangkaian untuk mencapai tujuan.
Menurut Sudjana ( 1989 : 30 ) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah: “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. “Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sisa-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu yang relatif lama. Hasil yang dirasakan dalam waktu dekat dikatakan seabagi dampak langsung (Instructional effect) sedangkan hasil yang dirasakan dalam waktu yang reltif lama disebut dampak pengiring (nurturant effect) biasanya bekenaan dengan sikap dan nilai.
Winarno Surakhman (1999), menyatakan : metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, makin baik metode itu makin efektif pula pencapaian tujuan untuk menetapkan lebih dahulu apakah sebuah metode disebut baik, diperlukan patokan yang bersumber dari beberapa faktor utama yang menentukkan adalah tujuan yang akan dicapai.

Muhaimin dan Mujib (1993) menyatakan : “tujuan diadakannya metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar menjadi lebih baik berdaya guna dan menimbulkan kesadaran anak didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran agama (Islam) melalui teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar bagi anak didik secara mantap”.
Secara umum model pembelajaran adalah suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu. Dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa, sumber belajar yang digunakan dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswa. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan karena lingkungan yang sedikit berbeda akan membawa pengaruh terhadap motivasi siswa dalam belajar. Oleh karena itu, diperlukan kurikulum yang dapat memberikan muatan kompetensi bagi peserta didik, yang di dalamnya memuat pengembangan sikap dan pengetahuan para siswa.
Pendapat Ayi Syaibany yang dikutip oleh Nurdin (2004), menjelaskan bahwa terdapat tujuh prinsip pokok yang harus diterapkan oleh seorang guru dalam hal metode pengajaran, yaitu :
(1) mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya;
(2) mengetahui tujuan pendidikan yang sudah diterapkan sebelum pelaksanaan pendidikan;
(3) mengetahui tahap kematangan (maturity), perkembangan, serta perubahan anak didik;
(4) mengetahui perbedaan-perbedaan individu anak didik;
(5) memperhatikan pemahaman dan mengetahui hubungan-hubungan, dan kebebasan berfikir;
(6) menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik; dan
(7) menegakkan contoh yang baik/uswatun hasanah.
Atas dasar pentingnya model pembelajaran yang telah dikemukakan tersebut, maka dalam penelitian tindakan kelas ini digunakan model role playing. Beberapa alasan yang mendasari penulis/peneliti menggunakan model tersebut, antara lain: sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu siswa lebih intens melakukan atau menggunakan bahasa lisan atau berbicara (speaking). Siswa dibawa kedalam situasi berperan sebagai seseorang, misalnya sebagai wisatawan, tamu di sebuah hotel, dan lain-lain. Sehingga siswa akan menjadi lebih tertarik dan belajar menyenangkan.

2. Role Playing
Metode bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Menurut Dawson yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Sedangkan menurut Ali mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok, dikemukakan oleh Ali yang dikutip dari ProIbid, sebagai berikut ini: (a) Sosiodrama, yaitu semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (b) Psikodrama, yaitu hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosio drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya; dan (c) Role-Playing atau bermain peran yaitu metode yang bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.

Sedangkan, Moedjiono dan Dimyati juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3 kelompok seperti berikut ini :
(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka;
(2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan/ atau waktu tertentu, dan
(3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.

Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama. Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Menurut Rustiyah (2003), ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
(1) Kemampuan guru dalam menggunakan metode
(2) Tujuan pengajaran yang akan dicapai
(3) Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa
(4) Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya
(5) Sarana dan prasarana yang ada di sekolah

Berdasarkan kutipan tersebut, berarti metode bermain peran adalah metode pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan/atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan demikian metode bermain peran adalah metode yang melibatkan siswa untuk pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan.
Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Endang Komara, mengatakan bahwa : Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan (http://nurma.staf.unc.co.id./file/2009/02/silabus.sbm/doc.)
Model Sajian Situasi merupakan kerangka prosedural pembelajaran yang menggunakan simulasi sebagai pemicu (trigger) belajar. Materi yang disajikan bukanlah konsep yang abstrak secara verbal tetapi situasi yang dibuat mencerminkan suatu konsep. Peserta didik dikondisikan untuk dapat menangkap konsep itu melalui proses analisis situasi yang disimulasikan.

Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, actual, kejadian-kejadian yang muncul pada masa mendatang. Contoh topik yang diangkat kejadian seputar G30S PKI, memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai atau gambaran keadaan yang mungkin pada abad teknologi informasi (Wina Sanjaya, 2006)
Metode simulasi adalah metode pengajaran yang digunakan dalam proses belajar berupa tingkah laku dengan tujuan orang tersebut dapat mempelajari lebih dalam tentang bagaimana ia merasa dan berbuat sesuatu atau suatu metode pengajaran dimana siswa memerankan tugas orang lain dalam dirinya sebagai tiruan (Thoifuri, 2008).
Bagi guru inisiator metode ini perlu mendapat tersendiri dalam rangka membentuk kemampuan siswanya untuk terpacu menjadi public figure sesuai yang diperankan anak didik dalam kehidupan kelak.
Metode bermain peran adalah bentuk permainanan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan perasaan sikap dan tingkah laku dan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan untuk menghayati perasaan sudut pandang dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain (Depdiknas 1998).

Terdapat beberapa asumsi dalam model pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Mulyasa, menyatakan bahwa: terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran keempat asumsi tersebut, yaitu :
(1) Bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ”di sini pada saat ini”,
(2) Bermain peran memungkinkan para siswa untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain, tujuan mengungkapkan perasaan adalah mengurangi beban emosional,
(3) Bermain peran, berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan masalah tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa juga muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal, dan
(4) Model bermain peran, berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para siswa dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah (Mulyasa, E, 2005)

Persiapan metode bermain peran :
1. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
2. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan
3. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi peranan yang akan dimainkan oleh para pemeran serta waktu yang disediakan
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeran simulasi (Wina Sanjaya, 2006)
Langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah :
a. Mempersiapkan situasi untuk memulai drama
b. Menjelaskan kepada anak-anak apa yang diharapkan dari hasil dramatisasi yang dilakukan
c. Menugaskan untuk memegang peranan tertentu kepada anak-anak
d. Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan para pelaku
e. Pelaksanakan drama
f. Menilai drama secara bersama-sama antara guru dan siswa (M. Basyirudin U., 2002)

Dari kutipan diatas dapat disimpulkan langkah-langkah dalam metode bermain peran menurut adalah sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan rencana pembelajaran
b. Guru membuat skenario yang akan ditampilkan atau diperankan
c. Guru membentuk kelompok atau menentukkan pemeran
d. Guru menentukkan pemeran utama dan pemeran figure
e. Guru mengamati jalannya pertunjukan tersebut
f. Guru menanyakan tanggapan terhadap pemeranan siswa
g.Guru memberikan penilaian terhadap pemeran-pemeran dalam skenario
h. Guru mengadakan triangjulasi

Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengekspresikan hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi model ini berupaya membantu peserta didik menemukan makna dari lingkungan sosialnya yang bermanfaat bagi dirinya. Juga melalui model ini para siswa diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelasnya. Sedangkan dari dari dimensi sosial, model pembelajaran bermain peran memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi sosial, terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi siswa.

3.Kerangka Berfikir Tindakan

Model pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran apresiasi drama merupakan salah satu masalah yang perlu menjadi perhatian para pendidik karena guru yang kreatif akan selalu mencari model pembelajaran yang baru dalam proses pemecahan masalah pembelajaran. Masalah-masalah itu perlu dicarikan solusinya, dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kreatif, demokratis, kolaboratif dan konstruktif.
Kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris merupakan tuntutan kompetensi dan merupakan faktor penting dalam keberhsilan pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Inggris. Dalam proses belajar, prestasi seseorang siswa akan menjadi lebih baik ketika siswa tersebut memiliki kemampuan dalam berbicara bahasa Inggris yang dapat diterapkan/dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, pergaulan bahkan ketika mereka belajar di kelas.
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa adalah rendahnya kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa dalam belajar. Kemampuan berbicara merupakan salah satu indicator dalam ketercapaian tujuan instruksional dalam pembelajaran bahasa Inggris. Berbicara dalam bahasa Inggris akan dapat menciptakan situasi yang aktif dan mendorong siswa lain untuk berkemauan dalam belajar bahasa Inggris secara teratur dan akan membuat siswa memiliki kecakapan mengenai cara berbicara yang baik. Rendahnya kemampuan siswa dalam berbicara (speaking) menyebabkan prestasi siswa dalam bahasa Inggris menjadi rendah, oleh karena mereka speaking merupakan komponen dalam penelaian bahasa Inggris.
Oleh karena itu, pengembangan dan pembinaan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris merupakan sikap yang harus ditanamkan dan dikembangkan sejak dini pada diri setiap siswa. Usia dini di SMP merupakan masa yang baik untuk melakukan hal tersebut. Namun, seringkali para guru tidak melakukannya secara optimal untuk mengembangkan nilai-nilai kecakapan melatih siswa dalam berbicara dalam proses pembelajaran.bahasa Inggris.
Seringkali, kegagalan pembinaan dan pengembangan kemampuan dalam berbicara adalah penetapan strategi dan metode pembelajran yang digunakan para guru untuk menumbuhkembangkan kemampuan siswa dalam berbicara secara optimal oleh karena berbagai kendala. Salah satu kendala yang paling dominan dalam melakukan pengembangan berbicara adalah model atau metode pembelajaran yang tidak menyenangkan tidak menarik bagi siswa, membosankan hanya ceramah saja, dan dilakukan secara monoton oleh para guru. Dampak yang timbul dari model pembelajaran yang demikian adalah tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Pada akhirnya, nilai-nilai disiplin yang diharapkan tidak tampak dalam prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris menjadi rendah.
Dalam kondisi demikian, maka siswa perlu disuguhkan dan diajak untuk lebih termotivasi dalam proses belajar. Model bermain peran merupakan alternatif dalam memecahkan masalah peningkatan kemampuan siswa dalam berbicara (speak) bahasa Inggris. Dengan model pembelajaran bermain peran, para siswa diajak untuk memerankan suatu figure atau tokoh yang dipilih oleh guru, yaitu mereka memerankan seseorang yang seluruh skenarionya dibuat oleh guru, namun bila memungkinkan siswa juga diajak untuk menyusun sebuah skenario peran yang akan dimainkan para siswa.
Model pembelajaran bermain peran, memberikan rangsangan sikap, emosi, dan dan merespon orang lain. Melalui model pembelajaran tersebut diharapkan nilai-nilai kedisiplinan akan tertanam dalam diri siswa, dan mampu untuk menerapkannya khususnya dalam belajar (di sekolah) dan pada kehidupannya sehari-hari.

4.Hipotesis Tindakan

Melalui pembelajaran role playing diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Inggris

Sumber Inspirasi Tulisan:
Dari berbagai sumber, yang telah disebutkan kutipannya diatas.

2 thoughts on “Role Playing Bahasa Inggris: Landasan Teori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s