Dialog Ruh Kita dengan ALLAH SWT


Dialog Perjanjian Ruh Kita dengan ALLAH SWT

Perjanjian Kita dengan ALLAH SWT, dalam keimanan Islam sudah terjadi tatkala ruh kita sebelum ditiupkan ke dalam jasmani. Ruh kita sudah pernah berdialog dengan ALLAH SWT dalam suatu perjanjian yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya, sebab janji itu pasti akan ditagih kelak di akhirat. Inilah dialog ruh kita dengan ALLAH SWT:

ALLAH SWT bertanya kepada ruh : ”Bukankah Aku ini Tuhanmu”
Roh menjawab : ”Benar!, Kami telah menyaksikan”

Peristiwa inilah yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ”Abdullah” perjanjian ”Ketuhanan” antara ALLAH SWT dengan manusia dan sebaliknya. Perjanjian ketuhanan yang kemudian terlukis dalam tiap-tiap jiwa manusia, sebagai ukuran dasar rohaniyah, yang membawa lahir ke alam terang ini sebagai fitrah. Hal ini diungkapkan dalam surat AL-A’raf ayat 172, yang artinya:

”Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan turunan anak Adam dari tulang punggungnya dan Tuhan mengambil kesaksian dari mereka sendiri, firmanNy: ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka (roh manusia menjawab: ”Benar! Kami telah menyaksikan”. Nanti di hari Qiamat agar kamu tidak mengatakan: bahwa, ”kami lalai terhadap hal ini. (QS. Al-A’raf 172).

Ayat tersebut, mengandung pemahaman tentang:
1.Manusia telah diciptakan ALLAH SWT atas fitrah Islam
2.Dalam Jiwa manusia telah disiapkan ALLAH SWT gharizah (naluri) iman

Konsekuensi dari orang yang berjanji adalah memenuhinya oleh karena adanya perjanjian kita dengan ALLAH SWT, adalah pemenuhan akan perjanjian tersebut untuk dimintakan pertanggung jawabnya di akhirat nanti.
Bagi setiap perjanjian tentu ada konsekuensinya, yaitu berupa hak dan kewajiban pada kedua belah pihak (para pihak: ALLAH dan Kita) yang mengadakan perjanjian. Hak adalah sesuatu yang harus diterima oleh satu pihak dari pihak lainnya, karena ia telah memberikan suatu kepada pihak lain. Dan kewajiban ialah sesuatu yang harus diberikan atau dikerjakan oleh satu pihak kepada/untuk pihak lainnya, karena ia telah menerima sesuatu dari pihak lain itu.

Hal ini diingatkan kembali ketika kita berada di dunia fana ini, yaitu :

”Dan adalah perjanjian ALLAH itu akan ditanyakan” (QS. Al-Ahzab, 15)

”Orang-orang yang menyempurnakan perjanjian ALLAH dan tidak merusak akan ikatannya” (QS. Ar-Ra’du, 20)

Sekarang, jelaslah bagi kita bahwa kita memang sudah pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan, dan perjanjian ini membekas dalam jiwa kita sebagai fitrah bertuhan yang Esa (ALLAH SWT) atau beragama. Perjanjian ini diadakan sewaktu roh kita dalam arwah, belum ditiupkan ke dalam jasmaninya.

Sumber: Syahminan Zaimi, Perjanjian Ketuhanan, 1981.

2 Comments Add yours

  1. ni nengah supleg handayani mengatakan:

    Kita semua sebagai seorang mulim tahu,bahwa ada perjanjian diantara kita dengan Allah.Namun kita sering lupa untuk memenuhi janji itu. Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita…Amin..

  2. siswandi a.n. mengatakan:

    ass ww, …mhn maaf : kayaknya (menurutku) gak semua tahu loh, … coba anda tanya ke temen2x iseng gitu, terutama orang2x spt sy yang baru belajar beriman, tapi yah mudah2xan aja diingatkan oleh ALLAH SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s