Berzakat, Bersodaqoh, dan Berinfak?


Berzakat, Bersodaqoh, dan Berinfak?
Oleh: Siswandi Adi Nugroho

Penegasan ALLAH SWT, dalam Al-Qura’an: ”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Al-Baqarah: 207).

A. Harta yang tidak Bisa Disucikan dengan Berzakat

Penegasan ALLAH SWT dalam surat tersebut sangatlah jelas bahwa hanya harta-harta yang diperoleh dengan cara-cara yang baik, adalah harta yang dapat diperuntukan dalam ketiga bentuk ketaatan, yaitu: Zakat, Infak atau Sodaqoh. Sebaliknya, jelas-jelas kita tidak dapat menipu ALLAH SWT untuk Berzakat, Berinfak atau Bersodaqoh dengan harta yang diperoleh dari cara-cara yang tidak halal.
Oleh karena itu, sangatlah keliru jika kita berfikiran, bahwa harta yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal tersebut kemudian di”Zakat”kan, di”Sodaqoh”kan atau di”Infaq”kan……..kemudian harta tersebut menjadi ”bersih”.
Di dalam Surat tersebut tertuliskan dengan jelas ALLAH SWT memeberitahukan dan memperingatkan, bahwa: si pemikik harta sendiri ”memicingkan” terhadap kepemilikan hartanya. Dan kebanyakan dari mereka si pemilik harta (dari cara-cara yang tidak halal) tersebut…menganggap dirinya (kaya dengan hartanya itu) sudah mampu berbuat baik dengan menyisihkan harta tersebut, padahal ALLAH SWT lebih kaya darinya…dan tindakan tersebut sungguh sangat tidak terpuji bagi ALLAH SWT. Mereka menganggap bahwa perbuatannya mengeluarkan zakat, bersodaqoh dan berinfak dari harta yang diperolehnya dengan cara-cara tidak baik, adalah tindakan terpuji.

B. Harta Siapa yang Wajib Dizakatkan!

Berdasarkan penegasan ALLAH SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 207 tersebut, maka pada hakekatnya yang diperintahkan oleh ALLAH SWT untuk menafkahkan hartanya (berzakat, sodaqoh dan berinfak) adalah orang-orang yang beriman dan dengan keimanannya itu dia memperoleh rizki dengan cara-cara yang baik (bekerja dengan tanganya misalnya petani, pegawai dan lain-lain).. itulah mereka-mereka yang memperoleh kewajiban untuk menafkahkan sebagian rizkinya.

C. Bagaimana Mereka yang Tidak Punya?

Bagaimana dengan sebagian orang yang digolongkan dalam ketidakmampuan dalam ekonominya (rizkinya). Bagaimana mereka dapat menafkahkan sebagian dari rizkinya untuk berbuat selayaknyanya perintah ALLAH SWT dalam Al-Baqarah:207 tersebut. Padahal mereka seringkali kerepotan untuk dapat menghidupi diri dan keluarganya. Inilah yang seringkali menjadi suatu alasan untuk bisa melaksanakan seperti yang diperintahkan tersebut. Sebagian dari kita akan memandang ini adalah dilema? Padahal jika kita menyadari bahwa kita termasuk dalam orang yang beriman atau sedang belajar memperbaiki keimanan kita kepada ALLAH SWT, maka hal untuk menafkahkan rizki tersebut dapat dilakukan.
Dalam pemahaman yang sederhan, kita dapat melakukan kebaikan-kebaikan yang mungkin dapat kita setarakan dengan bila kita berzakat, bersodaqh atau berinfak. Coba kita renungkan, apakah kita hanya berzakat hanya untuk harta kita saja, sedangkan tubuh dan jiwa kita hanya dizakatkan (dibersihkan atau di”Fitrahkan”) pada saat Iedul Fitri saja” atau hanya satu tahun sekali?
Mari kita berenung, tubuh kita perlu dizakatkan, bukan hanya pada setiap Iedul Fitri (zakat Fitrah)….padahal terbuka luas dan mudah untuk melakukannya. Misalnya saja:
a. Tangan kita biasakan untuk berbuat sesuatu dengan melakukan yang kecil dan mudah dilakukan….membuang sampah ditempatnya di lingkungan rumah kita
b. Membuang benda-benda yang membahayakan di jalan
c. Mata dan hati kita….selalu diusahakan untuk melakukan kebajikan-kebajikan, misalnya bila kita orang yang cacat (maaf), pedagang tua yang membawa dagangannya dengan dipikul … lalu kita doakan
d. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa kita buat untuk kebaikan-kebaikan tubuh kita…. selain kita melaksanakan sholat.

Semoga tulisan ringkas ini memberikan inspirasi bagi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Insyaallah.

Sumber Inspirasi Tulisan:
Republika, Jumat 12 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s