Guru Pembelajar


Menjadi Guru Pembelajar

Keberhasilan siswa dalam belajar tidak terlepas dari upaya guru yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berkualitas, di dalamnya terbentuk komunikasi antar siswa, siswa dengan falitas belajar, atau pun siswa dengan guru. Kemampuan guru dalam mendesain sebuah pembelajaran dan komunikasi setiap siswa akan mempengaruhi pula proses dan hasil belajar yang dikelolanya. Masing-masing siswa akan menerima dengan cara dan kapasitas yang berbeda dari hasil pembelajaran tersebut.
Adanya perbedaan kemampuan individual siswa, berdampak pada hasil belajar, seringkali belajar menjadi beban sehingga memunculkan rasa bosan bagi siswa, jika saja proses pembelajaran tersebut tidak berkualitas. Pada kondisi tertentu, keadaan tersebut semakin lama terbawa sampai siswa menjadi dewasa, pribadinya berpola negatif, seperti pesimis, mudah menyerah, dikendalikan keadaan. Proses pembelajaran yang kurang dan tidak berkualitas menyebabkan siswa malas, tidak termotivasi, merasa terbebani, sikap apriori terhadap guru, bahkan lebih jauh kondisi ini akan membentuk suatu karatkter siswa yang selalu berprasangka (negative thinking), mencari pembenaran, menimpakan kesalahan, sibuk dengan alasan dan lain-lain.

Lalu Bagaimana?
Sebagai seorang guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang memiliki sejumlah permasalahan dalam belajar seperti yang telah disebutkan, dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru, diantaranya adalah pemberi solusi bagi siswanya. Guru dituntut untuk mencari solusi terbaik (win-win solution), yaitu: Bagaimana menghadapi siswa dengan pola pribadi yang beragam. Caranya tidak lain adalah “guru menjadikan dirinya sebagai seorang guru pembelajar”.
Guru pembelajar adalah sosok guru yang dapat mengembangkan dirinya melalui profesinya secara total dalam proses pembelajaran. Pada sisi lainnya, sosok guru pembelajar adalah pribadi yang dapat mengupayakan berbagai teknik dan startegi model pembelajaran, serta kemampuannya dalam berkomunikasi sebaik-baiknya. Namun harus mampu menyentuh minat yang langsung berkenaan dengan akal dan rasa, sehingga diharapkan dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Konsep dasar belajar efektif dan kreatif semestinya bermakna, merupakan bagian dari guru pembelajar. Oleh karena itu, agar belajar menjadi bermakna maka belajar tidak cukup hanya mendengar dan melihat, tetapi harus dengan melakukan aktifitas, yaitu: membaca, bertanya, menjawab, berkomentar (argumentasi), mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, atau diskusi. Dalam arti bahwa belajar mempunyai indikator tolok ukur keberhasilanya, misalnya: bertanya-menjawab-diskusi, presentasi, menyelidiki, mengidentifikasi, menduga, menyimpulkan, mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan dan mengembangkan (to development).
Teladan yang dapat diambil dari seorang tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro (1908) melalui tiga prinsip pendidikan. Pertama, ing ngarso sung tulodo, maksudnya sebagai pemimpin guru hendaknya menjadi teladan. Kedua, ing madyo mangun karso, maksudnya bahwa dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktifitas sehingga kompetensi sisiwa terbentuk. Ketiga, dan tut wuri handayani, dimaksudkan guru dapat dijadikan fasilitator bagi kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang mandiri.

Dalam konteks proses pembelajaran, disadari bahwa kualitas dan hasil belajar dapat berbeda-beda kadarnya, jika cara dan metode yang digunakan tidak sesuai. Vernon A Madnesen (1983) dan Peter Shel (1989) mengemukakan bahwa Jika belajar hanya dengan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30% dan dari melihat dan mendengar bisa mencapai 50%, mengatakan-mengkomunikasikan dapat mencapai 70%, dan belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%. Denga demikian, maka implikasi terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah identik dengan optimalnya aktifitas siswa. Aktifitas tersebut tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan hands-on, minds-on, konstruktif, dan daily life (kontekstual). Semua itu, dibangun atas dasar kesadaran profesionalisme seorang guru, untuk dapat melaksanakan pembelajaran secara bermakna dan berkualitas.
Atas dasar pemikiran tersebut, terdapat dua jenis pembelajaran, yaitu belajar secara aktif dan secara pasif. Belajar aktif dapat ditelusuri melalui indikator yang mduah diketahui yaitu belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat (value), berupaya terlaksana dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangkan, belajar pasif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Berdasarkan indikator belajar aktif yang diketahui dan sesuai dengan pengetian kegiatan pembelajaran maka prinsip belajar yang harus diterapkan oleh guru adalah “student oreinted”, yaitu siswa harus sebagai subjek belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosional siswa dapat berkembang dengan baik. misalnya kemampuan bersosialisasi, empati dan mampu dalam pengendalian diri. Hal ini dapat tercapai dan dapat terlatih melalui strategi kerja individual-kelompok, diskusi, presentasi, tanya jawab, sehingga terpuruk adanya rasanya tanggungjawab dan disiplin diri bagi masing-masing siswa.
Bertitiktolak dan penjelasan tersebut, maka muara dan semua itu adalah
tuntutan adanya kompetensi bagi gum sebagai pelaksana pembelajaran di kelas. Menurut UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa terdapat empat komptensi pokok yang harus dikuasai oleh para guru, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepnibadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.

Tuntutan dalam hal kompetensi pedagogik dan profesionalisme merupakan tuntutan yang dekat dengan aktivitas dan proses pembelajaran. Menurut, Sujanto (2007:31-33), menjelaskan bahwa: Kompetensi pedagogik adalah kernampuan guru dalam mengelola pembelajaran, yang meliputi pemahaman tethadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi dirinya. Upaya memperdalam pemahaman terhadap siswa tersebut dilandasi oleh kesadaran bahwa: bakat, minat dan tingkat kemampuan siswa beibeda-beda, sehingga pelayanan yang diberikan secara individual juga berbeda-beda. Sekalipun bahan ajar yang disajikan dalam kelas secara klasikal sama, namun ketika sampai pada pernahaman secara individual, gum harus mengetahui tingkat perbedaan individual siswa, sehingga dapat memandu siswa yang memiliki percepatan bejarnya rendah, sehingga pada akhir pembelajaran memiliki kesetaraan dengan siswa yang lebih.
Pada dasarnya proses pembelajaran adalah bagaimana kemampuan guru membantu pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh siswa. Sedangkan, kompetensi profesionalisme yaitu kemampuan untuk dapat menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan gum mampu membimbing siswa dapat mermenuhi standar kompetensi minimal (KKM) yang seharusnya dikuasai oleh siswa. Guru professional adalah guru yang menguasai mata pelajaran dengan baik dan mampu membelajarkan siswa secara optimal, menguasai semua kompetensi yang dipersyaratkan bagi seorang guru..
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di sekolah, maka proses pembelajaran di kelas menjadi tolok ukur yang paling utama dalam menilai kualitas dan keberhasilan pendidikan di setiap sekolah. Untuk itu, menjadi suatu kewajiban bagi para guru agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya. Upaya tersebut dapat berhasil apabila setiap guru mau mempelajari dan melaksanakan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan.
Apabila kita perhatikan maka proses pembelajaran telah mengalami perkembangan yang pesat khususnya apabila dilihat dan aspek model, metode dan strateginya. Dalam kaitan itu, saat ini telah bergeser tuntutan dalam pembelajaran yang menekankan pada peran-peran guru di masa mendatang. Seperti yang telah dijelaskanoleh Louis V. Gerstmer Jr., dkk (1995) dalam bukunya “Reinventing Education” yang menjelaskan bahwa : dimasa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan, yaitu: guru sebagai pelatih (coach), konselor, manager pembelajaran, partisipan, pemimpin, guru pembelajar dan pengarang (sutradara). Sebagai pelatih (coaches) guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing, guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak.

Sebagai pembe1ajar, guru harus secara terus-menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Peran-peran lama yang harus berubah dan ditinggalkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran, yaitu: (1) dari sebagai penyampai pengetahuan, sumber informasi, ahli materi dan sumber segala jawaban berubah menjadi fasilitator pembelajaran, pelatih, kolabolator, navigator pengetahuan dan mitra belajar, (2) dan peran mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, berubah peran menjadi pemberi lebih banyak alternative dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, siswa juga perlu diarahkan untuk berubah ketika mengikuti proses pembelajaran berlangsung, misalnya: (1) dari penerima informasi (pasif) menjadi partisipan yang aktif dalam pembelajaran, (2) dari hanya mampu mengungkap kembali pengetahuan (penghafal) berubah menjadi siswa yang dapat menghasilkan (menemukan) berbagai ilmu pengetahuan, dan (3) dari siswa pembelajar individual (soliter) menjadi siswa pembelajar yang kolaboratif dengan siswa lain.

Guru pembelajar, dalam uraian ringkas tersebut dimaksudkan adalah guru yang mampu melakukan proses pembelajaran dengan berpedoman pada azas-azas pembelajaran yang mengembangkan proses pembelajaran yang imajinatif, kreatif, inovatif, objektif, presisi, dan optimal (pembelajaran IKI OPO?). Peran guru pembelajar disini adalah kemauan seorang guru untuk terus melakukan pembelajaran dirinya dalam setiap melakukan aktifitas tersebut.

Tulisan singkat ini, semoga menjadi motivasi bagi guru!

Salam Guru Indonesia!
Ir. Siswandi Adi Nugroho, MM.

Inspirasi Tulisan dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s