Sebuah Gagasan dan Strategi Pembiasaan Literasi

Literasi

Anis Baswedan, Menteri Pendidikan Nasional dengan inisiasinya untuk terus meningkatakan mutu pendidikan, salah satunya adalah mengajak para guru untuk terus memupuk karateri siswa. Salah satu cara yang dia sarankan adalah membangun karater melalui pembiasaan membaca buku. Kita sering sekali mendengar sebuah Tag Line “buku adalah jendela dunia”. Selain sebagai jendela dunia yang bisa mengantarkan pembacanya menuju titik terjauh di bumi ini, jika pembiasaan membaca ini diterapkan di dalam kelas, hal ini dapat membangun pembiasaan agar siswa mencintai buku, dan selalu berhasrat untuk membaca. Dengan memanfaatkan waktu 10 menit di awal masuk sekolah, dapat memberi pengetahuan bagi siswa. Saat-saat pertama masuk kelas adalah kondisi di mana pikiran siswa masih sangat segar. Kemampuan mereka dalam berpikir dan menyerap pengetahuan baru sangat baik di jam ini.
Sebagai SMPN 96 Jakarta, perlu:

1. Menindaklanjuti anjuran Menteri Pendidikan Nasional, yang dituangkan dalam Permendibud No. 21 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Dalam hal ini, antara lain pelaksanaannya melalui Pembiasaan Literasi di sekolah

2. Program literasi yang dilaksanakan di sekolah dilakukan dengan strategi CATUR WIYATA, DWI LAKSANA. Yaitu literasi mata pelajaran dikelompokan dalam 4 (empat) wiyata atau wahana atau bidang pengetahuan, yaitu:
1. Moral/Agama dan Kepribadian
2. Kebahasaan
3. Sosial, Budaya dan Ekonomi
4. Pengetahuan dan Teknologi

Strategi Pelaksanaan Literasi

literasi 1

Strategi yang dikembangkan program pembiasaan literasi di SMPN 96 disebut sebagai Strategi CATUR WIYATA, DWI LAKSANA, yang artinya program literasi dikelompokkan dalam 4 (empat) bidang wawasan dan dilaksanakan dalam dua semester, yang secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

  1. Catur Wiyata

Catur Wiyata yang dimaksud adalah pembagian bidang wawasan dalam meliterasi, yaitu:

  1. Moral/Agama dan Kepribadian
  2. Kebahasaan
  3. Sosial, Budaya dan Ekonomi
  4. Pengetahuan dan Teknologi

Dengan pembagian wawasan meliterasi ini, diharapkan akan dapat memudahkan bagi para siswa dan guru dalam penilaian, atau pun siswa akan lebih mendalami/memahami bidang bidang yang mereka minati (sukai), apakah bidang moral/agama, atau kepribadian. Begitu juga untuk bidang-bidang atau wiyata yang lainnya. Namun demikian guru sebagai pembimbing baik dalam mata pelajaran maupun sebagai “konselor” dapat memberikan arahan kepada para siswa bahwa bidang-bidang atau wawasan tersebut dapat dipadukan secara holistik dalam praktek literasinya.

  1. Dwi Laksana

Dwi Laksana ini dimaksudkan sebagai jalan keluar atas problem-problem beratnya beban siswa dalam menerima tugas, dan beban atau banykanya pekerjaan guru dalam melaksanakan tupoksi KBM. Karena itu, pelaksanaan literasi perlu dicarikan jalan atau solusi agar bisa terlaksana secara baik. Dwi Laksana artinya pelaksanaan literasi dapat dilakukan dengan pembagian menurut semester, misalnya untuk semester pertama akan dilaksanakan literasi untuk mata pelajaran: Pendidikan Agama, PKn, BK, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, sedangkan untuk semester kedua yaitu mata pelajaran IPS, Seni dan Budaya, Penjaskes, Keterampilan, Matematika dan IPA.

literasi 2

Selanjutnya, dipersiapkan sarana literasi misalnya di tiap-tiap kelas dibuatkan rak buku sebagai perpustakaan mini, sperti contoh berikut:

 

Bagaimana Melaksanakan Literasi

Bagaimana pelaksanaan dan instrumen apa yang akan diguanakan dalam pembiasaan literasi?. Agar pelaksanaan pembiasaan literasi dapat mencapai sasaran dan tujuan, maka pelaksanaanya haruslah dikemas dan rencanakan dengan baik dan benar, secara matang.

Dalam hal pelaksanaan tersebut, berikut diberikan gambaran sebagai contoh dalam melaksanakan literasi. Kegiatan literasi ini dapat dilaksanakan secara mandiri atau kelompok.

Literasi Mandiri

Literasi mandiri, merupakan literasi yang dikerjakan oleh para siswa secara individual. Mereka diberikan tugas literasi oleh beberapa guru sesuai dengan semesternya, misalnya untuk semester kedua seorang anak diberikan tugas meliterasi “Malin Kundang”, kemudian siswa diberikan lembar kerja literasi mandiri (LKM). Tugas tersebut dapat diselesaikan oleh siswa dengan terlebih dahulu membuat kesepakatan dengan guru, berapa lama waktu literasi yang dapat diselesaikanya.

Contoh instrumen dalam tugas literasi mandiri, dapat diperlihatkan format sebagai berikut.

literasi 5

Literasi Kelompok

Literasi kelompok yang dimaksudkan dalam hal ini adalah literasi kelompok mata pelajaran yang sesuai dengan semesternya. Misalnya pada semester dua, siswa diberikan tugas literasi sebuah buku. Selanjutnya, apabila pada semester kedua tersebut kelompok mata pelajaranya adalah IPS, Seni dan Budaya, Penjaskes, Keterampilan, Matematika dan IPA. Maka siswa dapat membuat literasi kelompok mata pelajaran sesuai dengan Catur Wiyata yang telah diprogramkan, yaitu siswa membuat literasi sesuai wiyata dan mata pelajarannya (Gambar 4.2.). Diharakan dengan cara demikian akan dapat memberikan efektifitas dan efisiensi, sekaligus dapat mengurangi beban tugas yang dikerjakan siswa, dan guru.

Untuk lebih memahami pelaksanaan kegiatan literasi tersebut, dicontohkan meliterasi sebuah buku judul: “Cara Mudah Menerapkan Metode Pembelajaran dan Menuliskan Laporan PTK”, karangan Siswandi dan Sulipan (2010).

literasi 6

Selanjutnya, sesuai dengan format yang telah dibuat oleh guru maka siswa diberikan tugas literasi, langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Sesuai dengan format yg dibuat, kemudian siswa menyelesaikan tugas Literasinya. Dengan satu buku Literatur siswa dapat menyelesaikan tugas dari 5 Mata pelajaran, hanya 1 lembar
  2. Selanjutnya, teknik penilaiannya bergantian oleh guru Mapel ybs.
  3. Penilaian dapat digambungkan dengan nilai ulangan harian jika tugas Literasi dipadukan/disesuaikan dengan KD nya masing2 Mapel.
  4. Jadwalkan terlebih dahulu berapa minggu (maksimal 1 bulan) siswa dapat menyelesaikan tugas tersebut

 Hasil literasi tersebut kemudian dituliskan dalam format tugas dan penilaianya, sebagai berikut.

TABEL LITERASI

Setelah tugas selesai dan kesepakatan waktu antara guru dan siswa, tugas tersebut dikumpulkan kepada guru, tentu saja tugas pengumpulan dapat dilakukan oleh ketua kelasnya untuk diserahkan kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan.

Evaluasi

Sebuah program yang baik, selain pelaksanaanya sudah dilakukan perlu kiranya dilakukan penilaian, tentu saja penilaian terhadap program dilaksanakan oleh Kepala Sekolah. Masing-masing guru membuat rekap hasil penilaian tugas literasinya. Sedangkan guru mata pelajaran, dapat memberikan laporanya kepada wali kelas untuk mendapatkan tindak lanjut, apabila terdapat hal-hal yang belum sesuai dengan strategi pembiasaan yang direncanakan. Dalam hal ini, guru dan wali kelas dapat pula memberikan evaluasi dan tindak lanjut dengan cara sebagai berikut:

  1. Tugas masing-masing siswa dikumpulkan dalam satu berkas, dibuatkan layaknya seperti tugas portofolio
  2. Memberikan pujian, reward misalnya literasi yang baik dapat dipasang pada media Majalah Dinding (Mading) yang ada di sekolah
  3. Disusun dan dirapihkan dalam bentuk buku, untuk kemudian disimpan dalam perpustakaan sebagai bagian sumber informasi hasil karya siswa.

 

Memaksimalkan Peran Guru dan Perpustakaan

Sebuah gagasan dan ide, serta program yang dibuat sebagus apapun jika tidak didukung oleh seluruh warga sekolah, maka tidak akan mencapai sasaran yang diharapkan. Karena itu, Kepala Sekolah memiliki tanggung jawab dan sekaligus memiliki hak untuk memerintahkan dan memberikan tugas kepada guru dan seluruh pegawai TU untuk mendukung dan melaksanakan program pembiasaan literasi yang dilakukan di sekolah.

 

 

Jakarta,  Ramadhan 1437 H

Siswandi Adi Nugroho, MM.

sisan

Kisah Hirosima dan Nagasaki (yg mungkin dapat terjadi) di Indonesia

indonesiakuJika Jepang mampu bangkit karena dua ledakan dahsyat bom atom yg menimpanya, itu karena wujudnya tampak kelihatan. Bom atom adalah satu peristiwa ledakan bom yg didasarkan pada reaksi kimia berantai, dan reaksi fisika fusi atom yg maha dahsyat. Efeknya hancurnya Hirosima dan Nagasaki.
Itu dulu,,,cerita orde tatanan dunia peperangan bagaimana dunia (negara kuat) menggunakan militeristik menguasai dan atau menaklukan dunia lain.
Bagaimana sekarang???
Mari kita renungkan Indonesia, sebagai sebuah negara yg luas, jumlah penduduk banyak, sumber daya alam melimpah, sungguh sangat menggiurkan.
Jika andaikan, mengulang sejarah penjajahan. Maka menggunakan cara militer untuk menguasai Indonesia, sesuatu yg mustahal.
Cara yg pasti berdampak mematikan dan melumpuhkan adalah penggunaan efek Nagasaki dan Hirosima dengan serangan “INTANGIBLE NUCLEAR BOM”. Meski strategi ini lambat, butuh waktu tetapi efeknya akan sampai pada tingkat “Radiasi Nuklir” yg mematikan sampai keakar-akarnya, pada tatanan IPOLEKSOSBUD.

@wahai pemimpin dan rakyat, mari jangan sampai “GAGALSADAR”

DANG DANG DUT ….

dang-dang dut,
pikirannya lagi ndat-ndut,
gak tau pengen apa gak bisa disebut,
bikin hati jadi kalangkabut,
suram seperti berkabut,
apa bisa harapan dijemput ?
kadang keinginan tambah semrawut,
dan emosi bisa nyampe ke janggut,
kemudian keluar lewat mulut,
apa saja semua disebut,
yg bikin jidat jadi mengkerut,
wajah semakin cembetut,

dang-dang….dut,
walau hidup kadang sprti badut,
yg pnting gak terlibat kasus ekspor sapi gendut,
atau jadi pejabat dengan rekening gendut,
walau hidup keadaanya ekonomi mbetutut,
selalu sja jadi buntut,
yang penting hidup masih bisa nyebut….

nyebut….but…..but….but…..but….but !!!

Indonesia Tanah Air Beta

Indonesia tanah air beta …

beta cuma bisa beli air,
beta tak bisa beli tanah,
beta lihat Indonesia selalu penuh air,
beta lihat Indonesia tanahnya selalu berkurang,

beta lihat Indonesia tak lagi punya Pusaka,
beta lihat pusaka pun tak lagi abadi nan jaya,
beta lihat pusaka tak sesakti dulu kala,
beta lihat koruptor dimana-mana,

beta kemana berlindung di hari tua ??
beta mungkin terluka sampai menutup mata ??

#dedikasikan untuk Indonesia: HARKITNAS

paijo~

FILOSOFI PEMBELAJARAN

     Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam masalah pembelajaran memahami filosofi pembelajaran menjadikan hal yang sangat penting. Filosofi itu sendiri berasal dari kata Filsafat. Menurut Suyitno (2009:6-7), Filosofis, berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas suku kata philein/philos yang artinya cinta dan sophos/Sophia yang artinya kebijaksanaan, hikmah, ilmu, kebenaran. Secara maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami hakikat segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan. Baca lebih lanjut

cik..icik…icik ibung …

cik..icik…icik ibung …
kehidupan spti tidak beruntung,
bikin hidup jdi bingung,
ditambah lgi harga2 pda melambung,
bikin perut tiap hari brasa kembung,
pikiran di kepala menjadi linglung,
tambah hari pengeluaran tambah gak bisa dihitung,
pengahsilan boro-boro bisa buat nabung,
yg ada utang semakin membumbung,
tiap trima gaji dihitung…itang itung,…tung !!
tetep aja judulnya ngenes gak ketulung,
tanggal muda tanggal tua, wajah tetep murung,
tiap hari boro2 bsa makan sama ikan kembung,
udah untung ada sayur rebung,

cik…icik….icikibung….
yg lebih aneh, jujur jdi buntung, tak beruntung,
tukang boong malah lebih beruntung,

tapi ingat walau hidup kita tak seberuntung,
org yg punya pabrik karung dan sarung,
yg penting sama gusti Allah jgn mutung,
dan istri kita tetep suka yg ada di dalam sarung,

Gandul, Cinere; Rabu, 8 Mei 2013